PRAKTEK SULAP KEPADA KAKAK DAN PEMBANTUKU, HINGGA MAU MENURUTI APA YG AKU MAU..!!

PRAKTEK SULAP KEPADA KAKAK DAN PEMBANTUKU, HINGGA MAU MENURUTI APA YG AKU MAU..!!

Cerita dewasa ini berawal ketika aku belajar dan mempraktekkan apa yang ku pelajari kepada kakak dan pembantuku. Iseng saja sebenarnya, aku belajar hipnotis. Aku belajar dari seorang master hipnotis. Tak ada maksud apa-apa. Kurang lebih sebulan setelah belajar, aku dirasa mampu untuk mempraktekkan ilmuku.

Aku awalnya praktek kepada seorang sukarelawan yang ditunjuk oleh masterku. Intinya hipnotis itu adalah dengan menggunakan objek, yang mana korban harus paling tidak konsentrasi ke objek tersebut.

Sebenarnya amat susah kalau menghipnotis seseorang apalagi orang itu bukan yang kita kenal. Kurang lebih setelah dua bulan lamanya aku pun sudah bisa menggunakan ilmu hipnotis. Hipnotisku adalah dengan objek perkataan dan gambar spiral.

Aku masih kelas 3 SMA. Tak ada yang menarik pada diriku, cuma anak sekolahan biasa. Satu-satunya yang menarik mungkin kak fitri. Orangnya sudah kuliah, cantik dan banyak cowok-cowok tertarik kepadanya. Tak ada satupun keluargaku yang mengetahui tentang kemampuanku menghipnotis orang. Dan lucunya, hal itu menjadi iseng ketika aku mencoba kepada kak fitri.

Pulang kuliah kak fitri dianter ama pacarnya. Namanya Doni. Tampak kak fitri orangnya sangat tertutup dengan orang lain. Dan karena pakaiannya sopan dan sikapnya yang baik, orang-orang enggan kepadanya. Dan kuliah Doni pun orangnya juga baik-baik, teman sekampusnya, baru jadian seminggu. Hari itu ndak ada ayah dan ibu. Ayah dan ibu pergi ke arisan keluarga, pulang baru hari kamis. Total seminggu di rumah kami sendirian, hanya ditemani Poni, pembantu kami.

Kak fitri langsung masuk ke kamar, ganti baju, dan mandi. Setelah makan malam, kami berdua nonton tv. Kak fitri tampak kecapean, aku bisa melihat raut wajahnya yang kusut.

“Gimana kampusnya mbak?”, tanyaku.
“Capek dik”, katanya.
“Banyak sekali kegiatan.”
“Sudah semester 2 kan, harusnya lebih bersemangat lagi”, kataku.
“Ntar juga kamu bakal ngerasain kok yang namanya kuliah gimana”, katanya.

Aku manggut-manggut. TV menampilkan film action. Kami berdua menontonnya tanpa bicara. Sampai kemudian ketika iklan aku nyeletuk.

“Kak, aku barusan belajar hipnotis nih, mau aku hipnotis?”, tanyaku sambil nyengir.

Dia menatapku dengan tatapan aneh. “Belajar dari mana?”

“Dari internet, belom dicoba sih tapi boleh dong kalau kakak jadi orang yang dicoba”, kataku.
“Hahahah, aku ndak percaya ama yang begituan”, katanya.

Aku lalu mengeluarkan papan yang bergambar spiral. Lalu menyerahkannya ke kakakku.

“Apa nih?”, tanyanya.
“Objeknya, coba aja lihat, klo bisa dan berhasil ya berarti berhasil”, kataku.
“Kayaknya seru nih, paling juga nggak bisa”, katanya sambil tertawa.
“Sudah lihat saja itu gambarnya, mulai ya?”, kataku.
“OK”, ia masih ketawa kecil.

Ia sebenarnya tak tahu, inti dari hipnotis adalah mendapatkan ijin dari korban. kalau korban sudah menyetujui, selanjutnya tinggal dari ucapan dan perintah kita saja, sampai ia benar-benar dalam kekuasaan kita. Korban bisa menyetujui dengan cara mengiyakan dihipnotis, ataupun dengan cara menyetujui ketentuan yang kita berikan atau perintah yang kita berikan. Dan kakakku sudah masuk ke situ.

“Bayangin saja itu spiral adalah sebuah jalan, kakak ada di pinggir ujung spiral, lalu tujuan kakak adlah ke tengah spiral itu.”, kataku.

Kak fitri melihat gambar spiral yang ia pangku tersebut. Ia mengurutkan garis spiral dari pinggir, lalu ke tengah secara perlahan.

“Jangan hiraukan suara lain selain suaraku”, kataku. Ini adalah lapis perintah kedua. Artinya, apabila seseorang sadar dari hipnotis, maka ia harus melewati kesadaran berlapis dulu baru sadar sepenuhnya.

Aku lalu mencobanya konsentrasinya. Aku keraskan volume tv sejenak. Kak fitri tak beranjak dari papan spiral itu. Aku paling tidak harus melakukan lima lapis kesadaran.

“Kemudian, satu-satunya yang mbak patuhi adalah suaraku, setelah aku panggil nama mbak di ulang tiga kali. fitri, fitri fitri!”, kataku. “Kalau mengerti mengangguklah!”

Kak fitri mengangguk.

“Kemudian, mbak akan sampai kepada titik tengah spiral. Apabila sudah sampai, mbak akan terasa lelah, matanya sangat berat dan mengantuk. Maka tidurlah!”, kataku.

Tak berapa lama kemudian kak fitri tertidur di sofa, ia tampak benar-benar . Aku mengecilkan volume tv. Dia sudah dalam lapis keempat. Lapis kelima sekarang.

“Mbak akan mematuhi apapun yang saya inginkan dan katakan, apabila aku bertepuk tiga kali lalu memanggil namamu tiga kali, Fitri, fitri, fitri, segera sadar dari pengaruh hipnotisku. Kalau mengerti mengangguklah!”, kataku.

Ia mengangguk. Bagus deh. Artinya kalau ingin sadar ia harus melewati lima kali kesadaran. Dan itu tidak mudah.

Aku pun mencoba iseng. Sebenarnya aku udah lama ingin melihat toketnya kak fitri yang terlihat menonjol dari Kaosnya itu.

“Fitri, fitri, fitri”, panggilku.

Kak fitri menjawab, “iya”.

“Buka BHmu dan tunjukin dadamu”, kataku.

Kak fitri pun dengan mata terpejam meraih tali Bra-nya di punggung. Lalu ia menaikkan kaosnya. Tampaklah olehku pemandangan yang sudah sangat lama ingin aku lihat. Mulusnya bongkahan putih itu. Dadanya putih, putihnya pink. Sempurna dan gedhe. Aku lalu menyentuhnya, kuremas dan kutekan putingnya itu. Ohh…rasanya luar biasa. Aku lalu mendekatkan diriku ke dadanya, kuciumi dada itu.

Kukecup lembut, kuhisapi pentilnya. Kak fitri hanya mendesah, dalam pengaruh hipnotis ia bisa merasakan sensasi ini. Aku lalu menghentikan aktivitasku. Wah, kalau ketahuan Poni berabe nih. Aku lalu mematikan tv dan membopong kak fitri. Aku masuk ke kamarnya dan kuletakkan ia di atas ranjang. Aku kunci pintu kamarnya lalu melakukan apa yang aku lakukan tadi di sofa.

“Oh…Mbak…hmmm”, aku mengenyot putingnya bergantian, kiri dan kanan. Kak fitri hanya naik turun nafasnya, mendesah.
“Kalau memang enak, mbak boleh menggerakkan badan sesuka mbak, tapi mata tetap tertutup ya!”, kataku.

Benarlah, kak fitri mulai meremas kepalaku. Ia seakan-akan tak mau melepaskan kenikmatan ini. Dadanya aku ciumi dengan rasa sayang, dan ketika aku jilati bagian pinggir payudaranya, ia menggelinjang hebat, sepertinya itu G-spotnya, aku teruskan dan ia makin mencengkram kepalaku, ia peluk erat kepalaku. Aku lalu bergelirnya ke perutnya, kuciumi pusarnya, lalu aku tatap wajahnya. Cantik sekali kak fitriku ini.

Aku ingin sekali mencium kak fitri dari dulu, aku lalu menempelkan bibirku ke bibirnya. Mulutnya yang sedikit terbuka aku jelajahi dengan lidahku. Kuhisap salivanya dan kutelan. Kuciumi apapun yang ada di wajahnya. Bau rambutnya sangat harum dan aku masih meremas toketnya yang gedhe tadi.

Penisku sudah on dari tadi sebenarnya. Aku lalu melepas celanaku hingga tubuh bagian bawahku telanjang.

“Kak fitri sekarang duduk”, kataku.

Kak fitri lalu duduk, masih memejamkan matanya dan lemas. Aku tuntun tangannya memegang penisku, oh nikmat sekali.

“Mbak anggap yang mbak pegang ini lolipop, kulumlah tapi jangan digigit, jilati dan hisap!”, kataku.

Kak fitri lalu membungkuk. Aku yang duduk di atas ranjang itu hanya melihat aksinya. Mula-mula ia jilati penisku persis seperti lolipop. Lalu ia kulum…..aawwww…itu lidahnya menari-nari di dalam mulutnya. Ia jilati punyaku seluruhnya hingga basah.

“Mbak boleh mengocok pake mulut kalau mau”, kataku.

Dan kak fitri nurut saja, kini kocokan mulut, hisapan dan jilatan menyatu membuat sensasi penisku serasa ngilu. Aku masih perjaka lagian. Ohh…nikmat banget. Aku meremas toketnya dengan gemas. Kak fitri pelan sebenarnya oralnya, cuman enak banget, bener-bener penisku dijadiin lolipop. OOuuuwwww,….mau keluar nih……

“Kalau sesuatu keluar, telan ya”, kataku.

Ooowww…ndak kuat lagi…aaaaaa…aaa…. Ia menghentikan aktivitas ngocok dan menjilati spermaku. Lalu ia telah semuanya. Aku bisa mendengar suara tenggorokannya menelan sesuatu.

Aku lemas.

“Sudah mbak. Sekarang mbak tidur saja!”, kataku. Kak fitri berbaring. Aku membetulkan branya, lalu aku memakai celanaku lagi. “Mulai sekarang mbak kalau aku panggil patuh pada perintahku, mengerti?”

Kak fitri mengangguk.

“Baguslah, sekarang hitung sampai seratus lalu sadar”,kataku.
“Satu….dua…tiga…”, kak fitri mulai menghitung. Aku lalu keluar kamarnya dan masuk ke kamarku.

Lemes deh….nikmat banget kak fitri sepongannya.

Esoknya hari minggu. Kak fitri keluar kamar dengan wajah sayu. Ia tak sadar apa yang terjadi tadi malam. Aku menonton film kartun saat itu. Aku menoleh kepadanya.

“Kemarin aku kok bisa ada di kamar ya?”,tanyanya.
“Lha, kan mbak sendiri yang masuk kamar”, kataku.
“Ahh…ndak inget”, katanya.

Hari itu kak fitri ada acara keluar jalan-jalan bersama teman-temannya. Jadilah aku di rumah sendirian. Hanya ada Poni di rumah menemaniku. Oiya. Poni ini cewek masih single, usianya sudah 34 tahun. Dan dia jadi pembantu di rumah ini sudah lama. Poni sendiri seorang janda, anaknya berada di desa diasuh oleh orang tuanya. Dan di kota ia mencari penghidupan yang layak. Aku kemarin bisa menghipnotis kak fitri, apakah bisa juga kepada Poni? Iseng lagi ah….

“Poni!”, kataku.
“Ya Den”, katanya.

Ia memakai T-Shirt dan celana pendek. Tubuhnya sintal, ndak gemuk, juga ndak kurus. Toketnya biasa saja sih, wajahnya juga ndak jelek-jelek amat. Hitam manis kalau boleh kunilai.

“Lagi ngapain?”, tanyaku.
“Lagi bersihin dapur”, kata Poni. “Perlu apa Den?”
“Coba duduk sini”, kataku.

Poni bertanya-tanya, mau apa majikannya ini.

“Aku sedang belajar hipnotis nih, boleh nggak jadi subjeknya?”, tanyaku.
“Emang bisa?”, tanyanya.
“Yaaa….namanya juga nyoba. Tenang aja deh ndak bakal aku apa-apain, lagian juga belum tentu berhasil”, kataku.
“Aden ini ada-ada saja, udah ah, mau lanjutin kerjaan saja”, katanya.
“Eeee…tunggu dulu, sebentar saja kok. Kalau tidak bisa ya udah”, kataku. “Tapi cuman sebentaaar saja”

Poni menghela nafas. Ia agak aneh juga, bahkan mungkin ia mengira aku tak akan berhasil.

“Baiklah, pertama aku ingin dirimu rileks dulu”, kataku.

Poni menghela nafas lagi. Ia mungkin mengira ini cuma permainan anak kecil yang harus ia turuti. Maklum sejak kecil ia sudah bekerja di sini.

“Bukan begitu Poni, yang rileks, santai gitu lho”, kataku.
“Iya, iya”, katanya.

Tak perlu kuceritakan lagi bagaimana langkah-langkah hipnotisku. Sebab caranya sama seperti apa yang aku lakukan kepada kak fitri. Dan…..Poni sudah dalam pengaruhku. Berhasil juga ternyata kepada pembokat sendiri. Kini Poni hanya menatap dengan tatapan kosong. Siap menerima perintahku. Aku mulai horni nih.

“Poni, Poni, Poni”, kataku.
“Iya den”, jawabnya dengan tatapan kosong.
“Kamu patuh kepada perintahku? ”
“iya”, katanya sambil mengangguk.
“Apa pendapatmu tentang diriku?”, tanyaku.
“Aden itu orangnya suka males, dan kelakuannya jelek. Suka godain diriku, pokoknya ndak suka deh”, kata Poni. wah, ternyata dia ndak suka kepadaku.
“Dulu waktu kecil sih lucu, setelah gedhe aden jadi nakal, suka keluyuran kemana-mana, padahal kalau baik Poni pasti suka”.
“Ini jujur?”, tanyaku.
“Iya”, kata Poni.

Aku koq jadi gemes dengan pembokatku ini.

“Baiklah buka bajumu!”, kataku.

Poni patuh saja kepadaku. Ia buka bajunya. Tapi cuma T-Shirtnya saja. Aku bisa lihat ternyata dadanya besar juga. Selama ini Bra-nya-lah yang membuat ia seperti mempunyai dada kecil. Dan aku bisa melihat tonjolan bongkahan yang padat dari kedua bra-nya. Shit! Jadi konak diriku.

“Maksudku semua bajumu sampai tidak memakai apapun”, kataku.

Akhirnya Poni pun melepas satu per satu bajunya. Sementara celanaku sudah sesak, aku pun terpaksa melepaskan semua bajuku sekalian. Kini kami berdua telanjang. Poni duduk di sofa sambil menatap dengan tatapan kosong lagi. Shit, beneran toketnya gedhe! Putingnya berwarna coklat, tapi kulitnya mulus, aku melihat ke bawah.

Wah dia rajin cukur bulu bawah sana ternyata. Aku mengamati seluruh tubuhnya. ternyata Poni ini montok, aku lalu mendekat ke wajahnya dan kucium bibirnya. Sedapnya. Setelah dilihat-lihat ia tak hanya hitam manis, tapi juga bikin aku horni. Itu toket gedhenya.

“Poni, kamu patuh padaku-kan?”, tanyaku.

Ia mengangguk.

“Pernah bercinta?”, tanyaku.
“Pernah”, jawabnya.
“Aku ingin kau anggap aku ini suamimu, cintailah diriku dengan rasa cinta yang sangat dalam, melebihi apapun. Anggap rasa cintamu padaku saat ini seperti balon yang kecil. Lalu perlahan-lahan balon itu kau tiup, besar, makin besar, besar, besar jangan khawatir sebab balon itu tak akan bisa meletus tapi hanya bisa membesar dan mengecil. Dan tiuplah balon itu sampai sangat besar melebihi apapun”, kataku.

Poni memejamkan mata. Sesaat kemudian ia membuka matanya dan melihatku.

“Aden…!”, panggilnya.
“Poni”, kataku.

Ia langsung memelukku. Dadanya membuat penisku makin keras mengacung. Ia menubrukku di sofa. Wajah kami saling berhadapan. Apa ia tak sadar kalau tak berpakaian?

“Aden, Poni cinta ama aden, sangaaaat cinta”, katanya.

Aku lalu menciumnya, kami pun berpanggutan. Baiklah keperjakaanku buat Poni saja. Lagi pula aku sudah horni. Kami saling berpanggutan, aku lalu menghisap teteknya yang gede itu. Alamaaaakkk…nikmat banget, kuhisap kiri dan kanan, kukenyot dan kuremas. Kenyal sekali. Baru kali ini aku menetek setelah sekian lama.

“Adeeen….ouhh…he-eh den itu. Netek sama Poni”, katanya.

Poni kini merebahkan dirinya, ia pasrah kuhisapi teteknya. Aku lalu ke bawah dan kuciumi perutnya, putingnya masih kumainkan, ia menggelinjang. Lama-lama aku pun ke bawah, makin kebawah dan kusapu itu vaginanya dengan lidahku. Ia menggelinjang hebat. Kujilati tempat kewanitaan itu. Rasanya asin, aku terus hisap dan kujilati hingga sangat basah. Poni pun tak kuasa lagi, ia meremas-remas kepalaku lalu pahanya mengempitku sambil ia bangkit.

“Awww….deeeenn….Poni keluar niii”, katanya. Aku lalu bangun. Punyaku sudah mengacung. Ingin masuk saja sepertinya.

Aku lalu menciumi bibirnya lagi, kami berpanggutan lagi. Lidah kami sailng menghisap. Aku siapkan rudalku, dan kutindih Poni. …awww…adududuh…..enak…gini ya rasanya? Penisku seperti disedot-sedot di vaginanya. Masalahnya ini vagina koq ya sempit ya, bukannya Poni sudah punya anak? Dan apa ini karena ia tak pernah dipake?

“Enak den, ….terus!!”, katanya.

Aku tak berlama-lama, kugenjot lagi. Poni merintih-rintih keenakan. ia meneriakkan namaku berkali-kali, aduh baru juga 10 menit nih goyang. Rasanya sudah diujung. Enak banget. Maklum aku masih baru pertama ginian, aku pun keluar. Maniku muncrat di dalam rahimnya.“Aaaahhh…adeeeenn….aww….awww….panas itunya”, katanya.

Kubenamkan lama di dalam sana, Poni memelukku.

“Baru pertama ya den?”, tanyanya.
“I…iya”, kataku.
“Dulu suamiku juga baru pertama kali gituan cepet”, katanya.
“Nikmat ndak?”, kataku.
“Iya sih, kan Poni keluar dulu cinta” katanya genit. End.

Make a Comment

Your email address will not be published.

You can make the comment area bigger by pulling the arrow. If you are techie, you can use basic HTML tags and attributes to format your comment.

(required)