Menodai Kegadisan Risma

menodai gadis enam belas tahun

“media parno”
apa pun yang ada di benakmu dan yang kamu alami sebagai wanita, jangan bikin kamu minder dan bermuram durja. masa lalu bukan aib yang perlu ditutup-tutupi. buat kamu yang ingin berbagi semua hal tentang kisah-kisah yuk cerita ke “media parno” biarkan orang tahu, kisahmu bisa menghibur bahkan menginspirasi mereka. siapa tahu ketemu jodoh di sini. dari cerita turun kehati. dan Jangn Lupa Like dan Share biar kami makin bersemangat menulis kisah-kisah maupun cerita-cerita yuk langsung aja kita mulai cerita nya.

Aku ingat Risma waktu dia masih kecil, Dia anak temanku yang paling kecil, Risma benar-benar membuat hatiku tidak karuan, dengan rambut sebahu, hitam legam ikal. Umurnya sekitar 16 tahun sekarang, dan wajahnya yang baby face membuatnya seperti tak berdosa.
Ketika melihat risma untuk yang kesekian kalinya, aku bersumpah kalau aku harus berhasil tidur bersamanya sebelum aku pergi dari kota ini.
Dan aku sudah menjalankan rencanaku. Aku main kerumah risma berkali-kali, sepanjang siang dan malam sampai aku telepon untuk mengetahui kapan risma ada sendirian dan kapan orang tuanya ada.
Dan pada waktu malam aku memutuskan untuk masuk ke rumah risma aku sudah memastikan bahwa orang tua risma sudah tidur dan risma ada di kamar tidurnya. Rencanaku akan kuperk0s@ risma sementara orang tuanya tidur di kamar mereka.

Tubuhku kaku karena tegang, waktu aku buka jendela belakang rumahnya pakai linggis. Suara jendela yang tercongkel terdengar seperti letusan membuatku harus diam tidak bergerak selama setengah jam menunggu apakah ada penghuni rumah yang terbangun. Utung saja semuanya masih dalam keadaan sunyi senyap, dan aku memutuskan untuk masuk.
Tubuhku sekarang gemetar. Setiap langkahku seperti membuat seluruh rumah berderit dan aku siap meloncat melarikan diri. Tapi waktu aku sampai di depan kamar tidur risma rumah itu masih gelap dan sunyi senyap. Aku buka pintu dan masuk sambil menutupnya kembali.
Aku seperti bisa mendengar jantungku yang berdetak keras sekali.
Aku belum pernah setakut ini seumur hidupku. Tapi bagian yang paling susah sudah berhasil aku lampaui. Kamar tidur orang tua risma ada di lantai dasar. Aku berdiri di samping ranjang risma memilih langkah selanjutnya. Perlahan pisangku mulai berdiri sampai akhirnya besar dan tegang sampai ngilu. Mata Risma terbuka menatapku tidak bisa bernafas. Aku ada di sebelah ranjangnya mencekik lehernya, sementara tangan kiriku mengacungkan belati di depan wajahnya.

“Diam. Jangan bergerak, jangan bersuara, atau kamu mati.” aku dengar nada suaraku yang lain sekali dari biasa. kedengarannya bengis dan kejam.
Risma tetap terlihat cantik. Umurnya enam belas tahun. Dia berbatuk-batuk.
“Kalau aku lepasin tanganku, kamu berguling tengkurap dan jangan berisik atau aku potong leher kamu.” Aku tentu tidak bermaksud akan membunuh dia, tapi paling tidak itu berhasil bikin Risma ketakutan.
Risma langsung menurut dan segera kuikat tubuhnya, menutup mulutnya dengan plester, dan mengikat pergelangan tangannya di belakang.

Selimut yang menutupi tubuh risma sekarang sudah ada di lantai, dan aku bisa melihat jelas gadis yang lagi tengkurap di depanku.
Tubuh Risma langsing dan mungil, dan baju tidur yang dipakainya terangkat keatas membuatku bisa melihat kakinya yang putih dan mulus.
Ereksiku sudah maksimal dan aku sudah tidak tahan sakitnya, celacanaku menyembul didorong oleh burungku yang besar, dan bersentuhan dengan pantaet Risma yang mungil. Aku menekan risma dan bergoyang-goyang membuat burungku bergesekan dengan pantaet risma dan dengan tanganku yang bebas kuraba bagian dada risma yang masih ditutup oleh dasternya. Buah dada risma masih kecil, yang membuatku makin birahi. Mulutku bersentuhan dengan telinga risma.
“kamu benar-benar sempurna. Tetap diam dan aku akan pergi sebentar segera.”

Mata Risma terpejam seakan-akan telah tertidur kembali.
Aku lepaskan celana trainingku dan celana dalamku sampai ke kakiku tapi belum aku melepaskannya dari badanku, sambil menatap bagian belakang tubuh risma yang indah. Kakinya yang telanjang membuat nafasku berat, dan dasternya tidak bisa lagi menutupi pantaetnya yang ditutupi celana dalam putih. Dan tangannya yang terikat erat benar-benar membuat risma sempurna buatku. Aku buka kaki risma tanpa perlawanan yang berarti, dan membenamkan wajahku, yang membuat risma mengeluarkan erangan untuk pertama kalinya. Aku benamkan wajahku ke selangan risma, menikmati wangi tubuh risma, yang terus mengerang ketakutan.
Selanjutnya aku raba-raba durennya yang tertutup celana dalam dari belakang, meraba, dan akhirnya menusuk-nusuk dengan jariku.
Kemudian kulihat dia gemetar dan kelihatannya mulai menangis.
Celana dalamnya lembab, dan aku jadi berpikir mungkin risma mulai terangsang oleh jarilu.
“Kamu suka risma? Hei, Kamu suaka tidak?”
Risma hanya menangis. Aku terus meraba durennya, sampai aku tidak tahan lagi, dan langsung kutarik celana dalam risma sampai lepas.

Baca Juga : Aku harus menikmat sari Dan susan skaligus ibu dan anaknya

Aku makin mencium bau bau tubuh risma. Dan aku mulai gila.
Aku balik lagi bandannya, karena aku tahu aku lebih mudah ngerjain Risma lewat depan. Risma berbaring tidak nyaman, berbaring terlentang dengan tangan terikat ke belakang, dan telanjang mulai pinggang kebawah, rambut kemaluaennya yang masih tipis terlihat jelas.
dia metatap mataku, air mata membuat pipi risma berkilat tertimpa cahaya lampu kamarnya. Aku tidak begitu suka liat tatap mata risma, aku jadi berpikir untuk bikin dia tengkurap lagi begitu burungku sudah masuk kandangnya. Aku menempatkan tubuhku, aku harus memnyuruhnya beberapa kali untuk membuka kakinya lebih lebar, seperti dokter gigi,
“Ayo lebih lebar sayang, loh kok segitu, lebih lebar lagi, bagus anak masnis,,..”, Aku ingin tahu dia masih perawan atau tidak.
Risma tidak meronta-ronta, soalnya aku masih pegang belatiku, tapi terus menangis tersedu-sedu, dan mengerang-erang, berusaha berkata sesuatu.
“kamu masih perawan tidak risma? masih? masih apa tidak.”

Risma terus menangis. aku angkat dasternya keatas lagi.
Di depan risma agak rata, buah dadanya hanya sekepal dengan dua gunung yang mengeras. aku pikir itu karena udara dingin, taoi mungkin juga bagian dari tubuh risma yang emang terangsang.
“bukan gitu sayang, kamu musti buka lebih lebar lagi..”

Aku tekan burungku di belakang durennya yang masih mungil.
Terasa basah. kutarik lagi burungku dan kumasukan jariku, dan merasakan jepitan duren risma yang hangat yang membuat burungku ingin merasakannya juga. aku gerakkan burungku maju mundur beberapa kali dan mengarahkan burungku lagi, tegang seperti tongkat kayu.
“Buka lagi manis, kamu benar-benar cantik. aku cuma mau p3rk@sa kamu terus pergi.”

Aku harus mendorong , bergoyang, berputar, dan akhirnya, ,mengangkat kedua kaki risma ke atas sebelum aku berhasil mendorong kepala burungku masuk ke kandang risma. aku lihat lagi dua gunung risma dengan ujung nya yang cokelat yang mencuat keatas. mata yang memohon dan meratap dengan air mata dan aku dorong burungku masuk ke kandangnya yang mungil milik gadis yang berumur enam belas tahun itu dengan seluruh tenagaku. Risma menjerit, diredam oleh plester, ,e,buatku makin semanngat.
Durennya semmpit sekali seperti menggenggam burungku. Dia ternyata tidak basah sama sekali. aku P3rk@sa dia dengan kasar, seakan-akan aku ingin membuatnya mati dengan burungku, berusaha membuat Risma menjerit serta aku menghentak masuk. Risma semakin histeris sekarang.

Keadaanku sudah 100 persen di kuasai birahi, dan sekarang aku memusatkan perhatian untuk menyakiti Risma, dan aku tidak punya lagi rasa kasihan buat Risma, aju terus menghentak-hentak di atas tubuh Risma, dengan kecepatan yang brutal, dan tubuhnya yang mungil terbanting-bannting karena gerakanku.
Aku merasa aku seperti merobek duren Risma dengan burungku, dan membuatku makin terangsang, mendorongku bergerak makin brutal.
Di sela-sela gerakanku, aku jatuhkan belatiku dan kulepaskan celanaku yang membuat tanganku bebas menggunakan tubuh Risma.
Aku kesetanan merasakan tubuh Risma, aku meremas setiap bagian tubuh Risma, meremas Dua gunungnya.

Baca Juga : BERDARAHNYA KEPERAWANANKU

Aku hampir tidak ingat apa saja yang aku kerjakan sama Risma.
Risma beberapa kali meronta pada awalya, berusaha membebaskan tangannya, berusaha berguling, berusaha mengkuarkan burungku dari kandang nya. Wajah Risma memancarkan rasa panik dan takut, dan aku terus memp3rk@sanya sekuat tenagaku, seakan-akan itu masalah hidup dan matiku. sesaat sebelum aku mengalami orgasme aku menarik burungku keluar dan Risma langsung berusaha untuk berguling. aku jambak rambutnya dan menariknya.
“Brengsek, tidur ke lantai.”

Aku tarik kepalanya sampai menempel ke lantai.
Sementara dia jatuh berlutu, tapi Risma sama sekali tidak bisa mengangkat wajahnya dengan tangan masih terikat ke belakang.
kepala Risma terbenam ke lantai. Risma masih menangis dan gemetar.
Aku masukkan lagi burungku ke kandang Risma tanpa kesulitan, karena burungku sudah seluruhnya dilumuri darah perawin Risma.
Aku masukan dari belakang sebelum Risma sempat meronta, aku pegangin pinggulnya sementara aku terus mendorong sekuat tenaga.
Dengan pantit masih nungging ke atas aku tekan punggung Risma dengan tanganku sehingga kepala dan dada risma makin terhimpit ke lantai, dan aku terus memp3rk@sa dia dengan gaya seperti dogi. dan Risma sendiri sekarang mendengking-dengking seperti anak dogi yang ketakutan.
sekarang kutarik lagi rambutnya, membuat kepala Risma terangkat.

Risma benar-benar cantik dan tak berdaya, tangannya terikat di punggung.
Aku terus memakai nya dengan keras dan tidak berirama, kadang brutal berhenti sedetik dan mulai lagi dengan keras, dan berganti menekan punggungnya ke lantai lalu menarik rambutnya hingga dia terangkat lagi, sampai aku merasakan tanda-tanda ejakulasi lagi. Aku ingin sekali melepas plesternya dan memasukan burungku ke mualutnya yang mungil, tapi untung saja aku masih sadar kalau itu bisa bikin aku ketahuan, jadi aku tetap menahan burungku di liang kenikmatan Risma sedalam-dalamnya dan melepaskan ejakulasiku. Aku pegangin belahan pantit Risma dekat denan selangkanganku waktu aku menyemburkan airku ke dalam duruen Risma yang menerimanya dengan tatapan mata panik.
“Ooohh Risma, sayangku, oh,oh..

Burungku bekerja keras memompa, berdenyut, menyeburkan air ke tubuh Risma, dan aku belum pernah mengeluarkan air sebanyak ini selama hidupku. Risma tetap diam tidak bergerak, terengah-engah.
Nafsuku juga terputus-putus, dan berdiri sedikit ketika aku mengjang lagi dan menyemprotkan sisa airku ke dalam Risma.
Aku menghentak dia beberapa kali lagi, sekarang dengan penuh perasaan seperti sepasang kekasih.
Risma sadar bahwa aku sudah selesai, dan menerima gerakanku yang terakhir ini masih tak bergerak, dengan kepala terbenam ke dalam karpet kamarnya yang tebal.

Aku tarik burungku keluar. dan aku langsung merasa cemas lagi. aku langsung mengenakan pakaianku, dan secara ajaib masih ingat untuk mengambil belatiku dan memikirkan sesuatu untuk aku ucapkan pada Risma.
“Makasih sayang” aku berbisik pelan dan langsung melarikan diri.

Dan biarpun aku sempat cemas ketika aku sudah dalam perjalanan ke luar kota, beberapa saat kemudian aku kembali dipenuhi hasrat baru.
Aku berpikir untuk kembali dan menculik Risma serta mengajak beberapa orang temanku untuk mencicipinya.

Tapi semua itu percuma, ternyata di rumah Risma dan rumahku sudah di kerumuni banyak orang. akhirnya aku kabur dan tak kembali lagi.
Entah gimana sekarang nasib Risma..

Make a Comment

Your email address will not be published.

You can make the comment area bigger by pulling the arrow. If you are techie, you can use basic HTML tags and attributes to format your comment.

(required)