MALAM JUM’AT YANG BERNAFSU BERSAMA SOPIRKU YANG PERNAH KU TABRAK

MALAM JUM'AT YANG BERNAFSU BERSAMA SOPIRKU YANG PERNAH KU TABRAK

Di dalam rumah tanggaku maupun lingkungan kerjaku tidak ada masalah dan semuanya baik-baik aja.

Suamiku juga amat pengertian sekali dan slalu memenuhi kebutuhanku baik lahir maupun batin.

aku di lahirkan dalam lingkungan yang memegang teguh agama dan adat jawa.

Setamat kuliah aku dan mas Dirga kini memutuskan untuk menikah, karena kami telah lama pacaran.

Dalam kehidupanku boleh di bilang berkecukupan, selain ayahku yang seorang pamor di daerah jawa tengah, orang tua mas Dirga pun terbilang orang ckup berada dan menetap di jakarta. Namun setelah menempuh hidup bersama dalam rumah tangga kami, dan selama 2 tahun, maka kami merencanakan menunda untuk mempunyai seorang anak. Mas Dirga ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan dan ingin tetap menikmati kehidupan berdua dulu tanpa di ganggu anak. Saat ini usiaku menginjak 25 tahun, tinggi badan 160cm dan rambut panjang.

Kulitku kata teman-temanku sawo matang, karena jika putih pasti kalah dengan orang chinesee.

Tidak heran selama aku kuliah dulu di daerah surakarta, banyak teman sekampusku yang coba mendekati, namun hatiku terpaut hanya kepada mas Dirga saja. Bukan materi yang aku kerjar terhadap dirinya, melainkan karena sikapnya yang begitu santun terhadap ku.

Teman-temanku bilang aku terlalu pilih-pilih, namun semua itu salah, dan kebetulan mas Dirga datang ke kostanku slalu pake BMW kadanh mercy milik orang tuanya.

tapi aku lebih suka jika ia datang dan menjemputku pake sepeda motor saja. dan bukan apa2, di kampungku orangtuaku juga punya mobil seperti itu.

kehidupan sexualku normal dan mas Dirga pun tau tentang seleraku. Ia amat mengerti kapan kami bisa berhubungan badan dan kapan tidak. Akupun tidak mau mas Dirga terlalu memporsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya.

Sebagai wanita jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah aja. Kami tinggal di surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua mas Dirga.

Dirumah yang luas dan asri ini, kami tigngal dan ditemani dua orang pembantu suami istri.

Kedua pembantu itu telah lama ikut bersama dengan orang tua mas Dirga.

Umur mereka kira-kira 50 tahun, yang perempuan bernama mak  Surti, dan pak Anom.

Kami mempercayakan rumah kepada mereka jika kami pergi kerja. Setiap hari aku ke kantor kadang di antar mas Dirga, dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu saat aku pulang kantor dan mau kerumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda dan yang mengendarai seorang pria separuh baya.

Pria itu jatuh. Karena takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku ke arah rumah.

Sesampai dirumah, aku masukan mobil dan kemudian berdiam di kamar. Masih terbayang olehku saat pria itu jatuh dan memanggil manggil aku untuk berhenti, namun aku tancap gas. Dirumah perasanku tak tenang dan itu aku diamkan saja dari mas Dirga. Setelah kejadian itu besoknya aku minta di antar ke kantor dengan mas Dirga. Hampir tiap malam aku bermimpi bertemuj dengan pria yang ku tabrak itu. Sampai-sampai mas Dirga heran akan skapku yang berubah dingin dan penuh gelisah. Llau mas Dirga menanyakan sebab perubahan sikapku itu. Akupun berterus terang dan mas Dirga pun memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk mengambil seorang sopir, untuk mengantarku. Akupun setuju, sebab aku memang trauma sejak saat itu menyetir sendiri. Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang di cari mas Hendra itu.

Alangkah kagetnya aku, dia itu adalah orang yang aku tabrak tempo hari ternyata.

Iapun kaget, namun aku berusaha mengatur sikapku, aku yakin iapun masih ingat denganku saat kejadian waktu itu. Supaya mas Dirga tak curiga pada orang yang ku tabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Aku pikir itung2 balas jasa atas kesalahanku saat itu.

Namanya pak Dinar, umurnya kira-kira 57 tahun, namun masih kuat dan sehat. Sejak saat itu aku selalu di antar pak Dinar kemanapun aku pergi, baik kekantor ataupun berbelanja. Setiap pagi ia ada dirumah, dan siap2 membersihkan mobilku. Sedang suamiku telah akrab dengan pak Dinar. Suatu hari saat mengantar aku kekantor sambil bincang2 pak Dinar bilangpadaku, Bu..  kalau ndak salah ibu dulu yang menabrak saya dengan mobil ini kan? Tanyanya.

Aku terdiam dan pak Dinarpun berkata, ibu kejam dan tidak bertanggung jawab.”Ujarnya.

Lalu ku jawab maaf pak ,, waktu itu memang saya salah, saya tergesa-gesa saat itu, jawabku.

Alah kalian orang kaya memang begitu.. menganggap orang lain itu sampah, lanjutnya..

Lalu ku jawab.. jngn begitu pak,, saya waktu itu benar2 khilaf kataku lagi.

Lalu ia diam aku pun diam saja saat itu, hingga sampai dirumah.

sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain, dan aku tidak ambil pusing.

Aneh memang kenapa saejak saat pak Dinar bertanya kepadaku saat itu, aku merasakan adanya sensasi tersendiri dalam hatiku saat menatap matanya. Perasaanku kepada pak Dinar serasa ingin terus bersamanya. Jika ia pulang sore harinya aku merasa ada yang hilang dalam hidupku.

Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Perasaanku kepada mas Dirga biasa aja.  Tepatnya pada sore Kamis saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta pak Dinar untuk singgah di sebuah restoran. Disitu aku mengambil tempat yang agak kesudut dan suasananya amat sepi nan romantis. Pak Dinar ku ajak makan. Kami duduk berhadap-hadapan.

Ia pandangi terus mataku. Akupun demikian seperti aku memandang mas Dirga. Tanpa ada kata-kata ia genggam jemariku saat itu, aku merasa tenang seperti gadis remaja dengan pasangannya.

Pak Dinar lalu meraih tanganku dan menciumnya.

Baru kali ini, tanganku di pegang orang selain suamiku dan ada rasa hangat yang mengalir di sekujur tubuhku. Beberapa saat kami menikmati suasanana yang tak aku hendaki itu terjadi.  Setelah itu kami keluar dari restoran dan menuju kemobil. Dalam mobilku itu, aku terdiam dan bingung akan kejadian barusan, otakku tidak berjalan sebagai mana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku dan ia dengan bebasnya meraih dan meremas tanganku.

Dalam mobil sebelum berjalan, pak Dinar menoleh kearahku, dan kembali meraih jemariku dan lalu ia rengkuh tubuhku lalu ia kecup bibirku. Aku kembali seperti orang linglung.

Sesampai dirumah aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu. Alangkah kurang ajarnya sopirku itu, bisik hatiku. Pada  tengah malah di jam 20.30 dengan separuh hati, aku layani suamiku dengan apa adanya. Tidak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan saat Mas Dirga mencumbuku dan mensebadaniku.

Hatiku slalu terbayang wajah pak Dinar. Kalau pikiranku sehat saat itu, terbayang wajahnya, sampai2 saat suamiku berada di atas tubuhku saat melakukan hubungan badan, aku kira pak Dinar yang di atas tubuhku, tapi untunglah aku masih bisa menguasai diri.

Besoknya aku seperti biasa diantar olehnya, dan ia tambah berani dengan meraba paha dan dadaku, tangannya aku tepiskan, namun ia hanya tersenyum. Setiap hari, matanya tidak luput memandangiku dari ujung rambut sampai kaki. Entah kenapa setiap hari seperti itu, ada2 saja yang ia pegang dari tubuhku, kadang dadaku, pahaku, kadang ia cium bibirku. Namun aku tidak berontak. Suatu ketika bertemu lgi di mlm jumat saat pulang kantor, mobil tidak ia arahkan kerumah melainkan kerumahnya di kawasan kartosuro. Disana suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Entah kenapa aku mau saja di ajak turun dan masuk kerumahnya, yang di kelilingi pohon2 besar. Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang telah tua.

Dalam rumah itu dia menyilahkan aku duduk di pinggiran dipan itu. Kalau di lihat gubuknya seperti rumah dukun dan dindingnya ada semacam tulang-tulang dan bau menyan.

Pak Dinar kebelakang dan tidak lama kemudian muncul dan duduk di sampingku. Bu beginilah keadaan saya, katanya.. ooo ndak apa lah pak.”jawabku. Lalu tiba2 saja ia lingkarkan tangannya di bahuku. Akumerasa tidak enak, buk saya ingin merasakan kehangatan tubuh ibu.. “katanya.

Dulunya istri saya masih hidup jika tidak ibu tabrak saya saat itu, saya masih bisa menolongnya, namun ibu membuat saya terlambat.. dan istri sayapun sudah tiada sekarang bu.”Terangnya.

Aku berharap ibu mau menggantikan kesunyian ini.Katanya.

Aku diam saja saat itu, aku begitu karena pikiranku sudah kosong dan dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan lepaskan. Setelah berkata begitu, satu persatu pakaianku jatuh kelantai dan setiap inci tubuhku ia raih dan remah hingga aku tidak bepenutup lagi.

Aku baringkan di dipan kayu itu, lalu ia buka pakaiannya hingga sama2 bugil denganku.

Saat itu aku sebelumnya hanya berpakaian kantor. Llau ia raih inci demi inci di setiap rongga di tubuhku. Dan akhirnya ia hujamkan kejantanannya kekemaluanku berkali kali. Hingga derit dipan itu terdengar. Aku hanya mendengus dan merasa terus di jadikan kuda pacu. Tubuh mulusku di jamah pak Dinar berulang-ulang, hingga akhirnya ia pancarkan cairan hangat itu di dalam kemaluanku, ada rasa hangat dan tegang saat ia sampai klimaks. Tanpa kusadari dari tadi telah klimaks.

Tubuhku saat itu penuh dengan keringat dan bercampur dengan keringat pak Dinar. Aku merasakan perih dan nyilu pada selangkanganku karena kejantanan pak Dinar panjang dan besar juga.

Hampir seluruh kulit tubuhku merah2 dan putingku serasa panas akibat gigitan pak Dinar. Beberapa saat kemudian aku di suruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. Lalu aku pulang diantarkannya dengan mobilku.

Dalam mobil aku merasa sesal telah menghianati mas Dirga, namun apa dayaku, sebab pak Dinar amat berkuasa terhadap tubuhku, hingga ia berhasil menelanjangi dan menyetubuhiku. Sejak saat itu, bila ada waktu saat aku pulang kantor, pak Dinar slalu menyetubuhiku dan kadang jika suamiku ke jakarta, ia dengan seenaknya tidur dirumahku dan kamipun bersebadan dengan pak Dinar di atas ranjang kami dengan mas Dirga.

Setiap ia menggauliku aku slalu merasakan puas dan pegal-pegal pada selangkanganku.

Para pembantuku tidak curiga atas tindakan kami. Pak Dinarpun tampaknya bisa menutup mulu kedia pembantuku.

Make a Comment

Your email address will not be published.

You can make the comment area bigger by pulling the arrow. If you are techie, you can use basic HTML tags and attributes to format your comment.

(required)