Kenikmatan yang H-QQ dari perawat temanku!!!

PARAH!!! PERAWAT KAKEKNYA TEMANKU MEMINTA KENIKMATAN DUNIA....

Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kontorku, aku terpaksa tinggal di Bandung selama 2 bulan. Di kota kembang ini, aku menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah renta, seorang perawat, dan seorang pembantu. “Rumah yang asri” gumamku dalam hati.

Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tutbuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum mAniisnya.

“Pak,ya..”.

“Ya.., saya temannya Ande yang akan menyewa kamar di sini. Lho, kamu kan pernah kerja di tetanggaku?”, jawabku surprise. Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Depok sebagai baby sitter.

“Iya…, saya dulu pengasuhnya Candy. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk kawin lagi. Saya kan dulu janda pak.., tapi mungkin belum jodoh.., eeeeheeeehh dianya pergi sama orang lain.., ya sudah, akhirnya saya kerja di sini..”, Mataku memandangi sekujur tutbuhnya.

Indah (nama si perawat itu) secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya mAniis, rambutnya hitam sebahu, buah d*** nya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu.

Aku tergagap dan berkata, “Eeeeh.., Mbak Indah, Bapak ada?”.

“Bapak sedang tidur. Tapi Mas Ande sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan ke kamar..”.

Indah menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber-AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan koperku di lantai sambil melihat berkeliling, sementara Indah merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa sengaja aku melirik Indah yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan berD*da rendah, terlihat dua buah d*** nya yang ranum bergayut di hadapanku. Ujung buah d***  yang berwarna putih itu ditutup oleh BRAAAA berwarna pink. Darahku terkesiap. Ahh…, perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong.Sadar melihat aku terkesima akan keeeehlokan buah d*** nya, dengan tersipu-sipu Indah menghalangi pemandangan indah itu dengan tangannya.

“Semuanya sudah beres Pak…, silakan beristirahat..”.

“Eeeeh…, ya.., terima kasih”, jawabku seperti baru saja terlepas dari lamunan panjang.

Sore itu aku berkenalan dengan ayah Ande yang sudah renta itu. Ia tinggal sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama beramah-tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Indah. Sore itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang juga tipis. Buah d*** nya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti itu. Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya mAniis, walaupun tidak secantik Indah. Tu***nya bongsor dan motok. Anii namanya. Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku.

Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat akrab dengan orang-orang di rumah itu. Bahkan Anii sudah biasa mengurutku dan Indah sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga kadang-kadang Indah merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku. Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, sedang menonton film blue kesukaanku di laptop. Tengah asyik-asyiknya aku menonton tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga…, Indah tengah berdiri di sana sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara er*ti* yang dikeluarkan oleh film blue itu.

Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Indah tersipu dan berlari ke luar kamar.

“Mbak Indah..”, panggilku seraya mengejarnya ke luar. Kuraih tangannya dan kutarik kembali ke kamarku.

“Mbak Indah…, mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok..”.

“Aach, ngga Pak…, malu aku..”, katanya sambil melengos.

“Lho.., kok malu.., kayak sama siapa saja.., kamu itu.., kamu sudah cerita banyak tentang diri kamu dan keluarga.., dari yang jelek sampai yang bagus.., masak masih ngomong malu sama aku?”, Kataku seraya menariknya ke arah ranjangku.

“Yuk kita nonton bareng yuk..”, Aku mendudukkan Indah di ranjangku dan pintu kamarku kukunci.

Dengan santai aku duduk di samping Indah sambil mengeraskan suara laptopku. Adegan-adegan yang diperlihatkan ke 2 bintang film itu memang menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Indah yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah d*** nya terlihat naik turun. Aku memberaniikan diri untuk memegang tangannya yang putih mulus itu. Indah tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku membelai telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Indah basah oleh keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai mengusap pergelangan tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya. Indah nampak pasrah saja ketika aku memberanikan diri melingkarkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra bahunya. Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku mulai merasakan montoknya pangkal buah d***  Indah. Kubelai-belai seraya sesekali kutekan daging empuk yang menggunung di D*da bagian kanannya.

Ketika kulihat tak ada reaksi dari Indah, secepat kilat kusisipkan tangganku ke dalam BRAAAA-nya…, kuangkat cup BRAAAA-nya dan kugenggam buah d***  ranum si janda muda itu.

“Ohh.., Pak…, jangan..”, Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya.

“Sshh…, ngga apa-apa Mbak…, ngga apa-apa..”.

“Nanti ketauan..”.

“Nggaa…, jangan takut..”, Kataku seraya dengan sigap memegang ujung benjolan buah d***  Indah dengan ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan.

“Ooh.., hh.., Pak.., Ouh.., jj.., jjanganhh.., ouh..”, Indah mulai merin*ih-rin*ih sambil memejamkan matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku.

Saat itu juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka karena merin*ih-rin*ih.

“Ouhh.., mmff.., cuphh.., mpffhh..”, Dengan nafas tersengal-sengal Indah mulai membalas ci***anku. Kucoba mengulum lid**nya yang mungil, ketika kurasakan ia mulai membalas sed*tanku. Bahkan ia kini mencoba menyedot l*d*hku ke dalam mulutnya seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tangannya kini sudah tidak menahan pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari leherku. Malahan tangan kanannya digunakannya untuk menekan belakang kepalaku sehingga ci*man kami berdua semakin lengket dan bergairah. Momentum ini tak kusia-siakan. Sementara Indah melingkarkan kedua tangannya di leherku, akupun melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku melepaskan bibirku dari kulumannya, dan aku mulai menci*mi leher putih Indah dengan buas. “aahh..Ouhh..” Indah mengg*linjang keg*lian dan tanganku mulai menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua tanganku merayap cepat ke arah tali BRAAAA-nya dan, “tasss..” terlepaslah BRAAAA-nya dan dengan sigap kualihkan kedua tanganku ke D*danya.

Gambar Ilustrasi

Saat itulah lurasakan betapa kencang dan ketatnya kedua buah d***  Indah. Kenikmatan mere**s-re**s dan mempermainkan benjolannya itu terasa betul sampai ke ujung sarafku. Otongku yang sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras. Rin*ihan-rin*ihan Indah mulai berubah menjadi jeritan-jeritan kecil terutama saat kure**s buah d*** nya dengan keras. Indah sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan nafasnya yang sudah sangat terengah-engah, ia mulai menci*mi leher dan mukaku. Ia bahkan mulai berani menjilati dan menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai merayap ke arah tutbuh bagian bawahnya. Dengan cepat aku menyelipkan jari-jariku ke dalam kulotnya melalui perut, langsung ke dalam celana dalamnya. Walaupun kami berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Indah saat itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari-jemariku untuk secepatnya mempermainkan miss V.

Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung. Sesekali terdengar suara guntur bersahutan. Namun cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami berdua di saat itu. Gairah seorang lajang yang memiliki  yang sangat tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan lelaki. Indah mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku menyentuh bulu-bulu lebat di ujung V-nya. Ia menghentikan ci*mannya di kupingku dan terdiam sambil terus memejamkan matanya. Tutbuhnya terasa menegang ketika jari tengahku mulai menyentuh V-nya yang sudah terasa basah dan berlendir itu. Aku mulai mempermainkan V itu dan membelainya ke atas dan ke bawah.

Indah sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain merin*ih penuh nafsu ketika clitorisnya kutemukan dan kupermainkan. Seluruh tu*** Indah bergetar dan berg*linjang. Ia nampak sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat juga aku kawatir dibuatnya. Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah kami lakukan. Namun kerasnya suara hujan dan geledek di luar rumah menenangkanku. Benda kecil sebesar kacang itu terasa nikmat di ujung jari tengahku ketika aku memutar-mutarnya. Sambil mempermainkan clitorisnya, aku mulai menundukkan kepalaku dan menci*mi buah d*** nya yang masih tertutupi oleh daster.

Seolah mengerti, Indah menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan jelas aku bisa melihat buah d*** nya yang ranum, k*ny*l dan berwarna putih mulus itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot dan kuhisap buah d***  yang berbenjolan merah jambu itu. Benjolannya terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itupun sudah sampai di puncak. Indah mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak rambutku. Sejenak kuhentikan hisapanku dan bertanya, “Enak Mbak?”. Sebagai jawabannya, Indah membenamkan kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah d*** nya. Jari tengahku yang masih mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang V Indah yang sudah menganga karena basah dan posisi pahanya yang mengangkang. Dengan pelan tapi pasti kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya dan, “Auuhh.., P.Paak.., hh”. Indah menjerit dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. “Terrusshh.., auhh..”. Kugerakkan jariku keluar masuk di V dan Indah menggoyangkan p*nggggulnya mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu.

Aku menghentikan ci***anku di buah d***  Indah dan mulai mengecup bibir ranum janda itu. Matanya tak lagi terpejam, tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan yang ia rasakan ini jangan pernah berakhir. Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing tangan kanan Indah ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh Otongku yang sudah sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah melihat bentuk yang panjang dan besar seperti itu. Indah mere**s Otongku dan mulai mengocoknya naik turun naik turun.., kocokan yang nikmat yang membuatku tanpa sadar melenguh, “Ahh.., Mbaak.., enaknya.., terusin..”.

Saat itu kami berdua berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Indah sudah ingin secepatnya memasukkan Otongku ke dalam V. Ia tidak mengatakannya secara langsung, namun dari tingkahnya menarik Otongku dan mendekatkannya ke V-nya sudah merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdegar suara si Bapak tua berteriak, “Indahii…, Indahii..”. Kami berdua tersentak. Kukeluarkan jemariku dari V-nya, Indah melepaskan kocokannya dan ia membenahi pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sambil mengancingkan kembali BRAAAA-nya ia keluar dari kamarku menuju kamar Bapak tua itu. !, kepalaku terasa pening. Begitulah penyakitku kalau tak tersalurkan.

Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua renta itu, sampai aku tertidur. Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa napasku sesak. D*daku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka mataku. Aku terbelalak, karena tampak sesosok tutbuh putih mulus telanjang bulat menindih tutbuhku.

“Mbak Indah?”, Tanyaku tergagap karena masih mengagumi keindahan tutbuh mulus yang berada di atas tutbuhku. Lekukan p*nggggulnya terlihat landai, dan perutnya terasa masih kencang. Buah d*** nya yang lancip dan montok itu menindih D*daku yang masih terbalut piyama itu. Seketika, rasa kantukku hilang. Mbak Indah tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan merasakan betapa Otongku sudah kembali menegang.

“Kita tuntaskan ya Mbak?”, Kataku sambil menyambut kuluman lid**nya. Sambil dalam posisi tertindih aku menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat terputus itu, menD*dak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang sudah dalam keadaan bugil saling meraba, mere**s, menci*m, merin*ih dengan keganasan yang luar biasa. Mbak Indah sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan p*nggggulnya di atas Otongku sehingga bergesekan dengan V-nya.

Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen lagi. Kubalikkan tutbuh Indah, dan kutindih sehingga keeeehmpukan buah d*** nya terasa benar menempel di D*daku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan Otongku yang sudah sangat menegang itu bergesekan dengan V-nya.

“Mbak.., buka kakinya.., sekarang kamu akan merasakan sorganya dunia Mbak..”, bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Indah membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum maniis dengan mata sayunya yang penuh harap itu.

“Ayo Pak.., masukkan sekarang…”, Aku menempelkan kepala Otongku yang besar itu di mulut V Indah. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan, “aa.., Aooohh.., paakh….., aahh..”, rin*ihnya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh Otongku kubenamkan ke dalam V-nya. Setelah itu, “Blesss…”, dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis Otongku diiringi jeritan er*ti*nya, “Ahh.., besarnyah.., ennnakk ppaak..”.

Aku mulai memompakan Otongku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan Indah terdengar di kamarku. P*nggggul janda muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang p*nggggulnya sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya p*nggggulku. Buah d*** nya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari. Sungguh menggairahkan!

Tiba-tiba aku merasakan pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di punggungku. Otot-ototnya mulai menegang. Nafas perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-tiba tutbuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam,dan alisnya merengut “aahh..”. Indah menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan Otongku yang masih bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat. Dari wajahnya yang menyeringai, tampak janda muda itu tengah menghayati orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak pernah ia alami itu. Aku tidak mengendurkan goyangan p*nggggulku, karena aku sedang berada di puncak kenikmatanku.

“Mbak.., goyang terus Mbak.., aku juga mau keluar..”. Indah kembali menggoyang p*nggggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tutbuhku menegang.

“Keluarkan di dalam saja pak”, bisik Indah, “Aku masih pakai IUD”. Begitu Indah selesai berbisik, aku melenguh.

“Mbak.., aku keluar.., aku keluarr…., aahh..”, dan…, “Craetttat.., Craetttat.., craat”, kubenamkan Otongku dalam-dalam di V perempuan itu. Seakan mengerti, Indah mengangkat p*nggggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang sumsumku.

Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-layang entah ke mana. Tutbuhku masih menindih tutbuh montok Indah. Kami berdua masih saling berpelukan dan akupun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami sesudah itu di Bandung.

Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap. Kesibukan ini bahkan membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan Indah. Walaupun begitu, sering juga aku mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk melakukan bercinta during lunch. Sayang, di waktu tersebut ternyata Ayah Ande senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah kesampaian. Namun suatu hari aku cukup beruntung walaupun orang tua itu tidak tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan.

Ceritanya sebagai berikut: Indah diminta oleh Ayah Ande untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, aku diam-diam mengikutinya dari belakang. Kamar ayah Ande memang tidak terlihat dari tempat di mana orang tua itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari belakang. Indah terkejut dan tertawa kecil ketika sadar siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi langsung menyambut ci***anku dengan bibirnya yang mungil itu sambil dengan buas mengulum l*d*hku. Ia memang sudah tidak malu-malu lagi seperti awal pertemuan kami. Janda cantik itu sudah menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa suaminya tega meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan, suaminya tak mampu mengimbangi gejolak gairah Indah di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan perempuan lain yang lebih ‘low profile’. Aku memang belum sempat menanyakan pada Indah bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologisnya di saat menjanda. Aku berpikir, bawa masturbasi adalah jalan satu-satunya.

Kami berdua masih saling berci*man dengan ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BRAAAA sehingga dengan mudahnya kure**s buah d***  kanannya yang ranum itu.

“Kok ngga pakai BRAAAA Mbak..?” Sambil mengg*linjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal.

“Supaya gampang dire**s sama kamu..”. Benar-benar jawaban yang menggemaskan!

Kembali kukulum bibir dan lid**nya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga. Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah d***  kanannya dan kuhisap sedemikian rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Indah mulai mengerang keg*lian, “Ouhh.., g*li Mas.., g*liii.., ahh..”. Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan dirinya untuk memanggilku Mas. Sambil mengg*linjang dan merin*ih, tangan kanan Indah mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku.

Otongku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala Otongku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas V-nya, celana dalam Indah terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga V-nya sudah siap untuk dimasuki oleh Otongku.

Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang kali ini berwarna hitam, kudorong tutbuh montok perawat itu ke dinding, lalu kuangkat paha kanannya sehingga dengkulnya menempel di pinggangku. Dengan sigap pula kubuka ritsluiting celanaku dan kukeluarkan Otongku yang sudah sangat tegang dan besar itu. Indah sudah nampak pasrah. Ia hanya bersender di dinding sambil memejamkan matanya dan memeluk bahuku.

“Indahii.., mana minyak tawonnya.., kok lama betuul…”. Suara orang tua itu terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Indah sempat terkejut dan nampak paniik ketika kemudian aku berbisik, “Tenang Mbak.., jawab aja.., kita selesaikan dulu ini.., kamu mau kan?” Ia mengangguk seraya tersenyum mAniis.

“Sebentar Pak..”, teriaknya.

“Minyak tawonnya keselip entah ke mana.., ini lagi dicari kok…”. Ia tertawa cekikikan, g*li mendengar jawaban spontannya sendiri. Namun tawanya itu langsung berubah menjadi jerikan er*ti* kecil ketika kupukul-pukulkan kepala Otongku ke tutbuh bagian bawahnya.

Perlahan-lahan kutempelkan kepala Otongku itu di pintu V-nya. Sambi kuputar-putar kecil kudorong p*nggggulku perlahan-lahan. Indah ternganga sambil terengah-engah, “aahh.., aahh.., ouhh.., Mas.., besar sekali.., pelan-pelan Mas..pelan-pelanhh..”, dan, “aa…”. Indah menjerit kecil ketika kumasukkan seluruh Otongku ke dalam V-nya yang becek dan terasa sangat sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan Otongku maju mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tutbuh Indah terguncang-guncang, buah d*** nya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi.

Aku sudah tak peduli kalau ayah Ande sampai mendengarkan jeritan perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang memiliki daya pikat bercinta yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat, namun kemulusan dan kemontokan tu***nya sungguh setara dengan perempuan kota jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkankan di kulit kita. Gerakan p*nggggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak pu**-pu**nya menci*mi dan menghisap benjolan buah d*** nya yang meruncing panjang dan keras itu. Buah d*** nya yang k*ny*l itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tutbuh Indah menegang.

Kupercepat gerakan p*nggggulku dan tiba-tiba, “aahh.., Mas.., Masss…, aku keluarrr.., aahh”, Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan Otongku ke dalam V janda muda itu sekeras-kerasnya dan, “Craat.., craatt.., craat”.

“Ahh…, Mbaak”, erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh bersamaan itu. Kami berpelukan sesaat dan Indah berbisik dengan suara serak.

“Mas.., aku ngga pernah dipu**in laki-laki seperti kamu muasin saya.., kamu hebat..”. Aku tersenyum simpul.

“Mbak., aku masih punya 1001 teknik yang bisa membuat kamu melayang ke surga ke-7.., ngga bosan kan kalo lain waktu aku praktekkan sama kamu?”. Perlahan Indah menurunkan paha kanannya dan mencabut Otongku dari V-nya.

“Bosan? Aku gila apa.., yang beginian ngga akan membuatku bosan.., kalau bisa tiap hari aku mau Mas..”. Benar-benar luar biasa  perempuan ini. Beruntung aku mempunyai  yang juga luar biasa besarnya. Sebagai partner bercinta, kami benar-benar seimbang.

Setelah kejadian siang itu, aku dan Indah seperti pengantin baru saja. Tak ada waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian, aku tekankan pada Indah, bahwa hubungan antara aku dan dia, hanyalah sebatas hubungan untuk memuaskan nafsu birahi saja. Aku dan dia punya hak untuk berhubungan dengan orang lain. Indah si janda muda yang sudah merasakan kenikmatan bercinta bebas itu tentu saja menyetujuinya.

Suatu hari, Indah masuk ke dalam kamarku dan ia berkata, “Mas, aku akan mengambil cuti selama 1 bulan. Aku harus mengurusi masalah tanah warisan di kampungku..”.

“Lha.., kalau Mbak pulang, siapa yang akan mengurusi Bapak?”, tanyaku sambil membayangkan betapa kosongnya hari-hariku selama sebulan ke depan.

“Mas Ande bilang, akan ada adik Bapak yang akan menggantikan aku selama 1 bulan.., namanya Mbak Ine.., dia ngga kawin.., umurnya sudah hampir 40 tahun.., orangnya baik kok.., cerewet.., tapi ramah..”. Yah apa boleh buat, aku terpaksa kehilangan seorang teman berhubungan bercinta yang sangat menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.., atau kalau berpikir positif.., its time to look for a new partner!!!

Make a Comment

Your email address will not be published.

You can make the comment area bigger by pulling the arrow. If you are techie, you can use basic HTML tags and attributes to format your comment.

(required)