Karena Membantah Perkataan Nenek Hilanglah Keperawananki.

Karena Membantah Perkataan Nenek Hilanglah Keperawananku

“Kamu ngga bakalan bisa hidup kalau begini terus ujar Putri”


Kisah gadis yang menyesal tak mendengar perkataan nenek nya, sebut saja dia Putri.

Sebelum memulai bercerita panjang lebar mengenai kisah hidup nya Putri kepada “media parno” mari kita like dan share dulu biar kami makin bersemangat membagikan cerita dan kisah-kisah menarik buat kalian.

”Pokoknya aku ngga mau! titik!” Putri menutup pintu kamarnya dengan gebrakan yang keras.
Neneknya yang sadari tadi mengomel seketika mengangkat bahunya, menandakan dia begitu kaget karena ulah cucunya itu. sembari nenek mengusap-usap dadanya yang sudah rata itu berkata Kenapa sih ini anak.

Putri” maunya apa sih.
pokoknya aku ngga mau” semakin lantang suara putri dari dalam kamarnya.

Putri anak pertama dari tiga bersaudara itu baru saja lulus dari bangku SMA. dia sudah tidak punya ibu.
Setahun silam ibunya meninggal dunia akibat serangan jantung.
Ayahnya, sudah lama merantau kekota, mencari sesuap nasi untuk menafkahi anak-anaknya.
Kini putri tinggal bersama neneknya. dan akhir-akhir ini putri merasa kehilangan hairah hidup karena semenjak lulus, dia selalu di kekang oleh neneknya untuk cepat-cepat mencari pekerjaan.

“Rifal, Istrimu itu sekarang pergi kemana kok nenek ngga pernah liat, yah”
Sore itu halaman rumah rifal, tetangga Nenek.
Rifal pun bercerita tentang Reni yang jadi TKI.

“Dia sudah tiga bulan, Nek jadi TKI di malaysia. kata dia betah di sana, nek. Hidupnya terjamin. apalagi dia dapat majikan yang baik dia sudah di anggap seperti anaknya sendi oleh majikannya. dan kami di sini pun merasa senang karena setiap bulan dia selalu mengirimkan uang. jadi kami di sini tidak kawatir untuk makan sehari-hari. malah lebih dari itu enak nek,” Terang Rifal, bercerita panjang lebar tentang istrinya.

Mungkin sejak percakapan sore itulah, si.nenek berubah menjadi bukan nenek seperti biasanya.
Nenek yang dulu lemah lembut dan selalu mengabulkan apa yang diimginkan cucunya, kini berubah menjadi pemaksa. dan putri tidak mau kehidupannya di ganggu terus-terusan seperti itu.
Kupingnya terasa panas setiap kali neneknya itu membuka percakapan tentang TKI. ingin sekali dia memberontak, tapi apalah nenek. perempuan tua itu,
Putri tidak mau kelewat batas menyikapi keras kepala neneknya.

Putri menyimpan kesal yang bertumpuk-tumpuk di dadanya.

Aku mengerti, aku ini anak pertama yang akan menjadi tumpuan adik-adikku nanti, tapi apa iya aku harus melakukan semua ini”
Putri berbicara dengan boneka di kamarnya.
Jawab doongg? kok kam diam saja lalu boneka beruang coklat itu digoyang-goyangkannya.
Ahh nyebeliin” Lalu putri melempar bonekanya kepintu.

Lalu adiknya mendengar dan dia membuka pintu kamar putri kak kennapa?
Putri pun bertanya sudah pulang kamu dik.
Sudah kak. ujar adiknya. pada putri sambil berganti baju sekolah nya.
Adiknya duduk di samping kakaknya di kasur.
Kakak ada masalah apa? cerita doong sama aku.”
Ngga apa-apa kok wi. Jawab putri.

Air mata kakak ngga bisa bohong, ujarnya sambil mengusap air mata kakak perempuanya yang masih mengalir hangat di pipi putri.

Putri hanya diam. diapun memejamkan mata sekali lalu menghelang napas.

Kakak sebel sama nenek, kakak tanya sama kamu, kamu mau setelah lulus nanti jadi TKI.

Jawab dewi: apa salahnya kalau itu yang terbaik buat kita kenapa ngga.

Jawab purti ahh anak kelas satu SMA tau apa soal itu kamu sama saja kayak nene.
Ditatapannya adiknya itu dalam pandangan kesal.
Aku sudah gede kak aku tau mana yang baik mana yang ngga.

Jawab putri: Terus saja semua orang kaya gini bisa-bisa aku gila.

Putri bangkit dan meninggalkan kamarnya.
Kesalnya menggunung. seolah-olah tak satupun yang bisa mengerti perasaannya. neneknya dan kini dewi, adiknya itu pun ikut-ikutan keras kepala.

Malam itu. putri memutuskan keluar rumah buang suntuk begitu kata batinya dia pergi kemanapun kakinya melangkah tak tahu arah mana yang akan dia tuju lelah melangkah, dibawanya duduk di warung kopi halte taman hingga di bawah jembatan dia hanya melamun merenungi makna hidupnya saat ini.

Putri pun bertanya dalam hati.
Apa yang harus dilakukan tidak tahu.
Apa yang kamu cari dalam hidup ini tidak tahu.

Hanya tidak tahu, yang ada dalam benaknya.
Sungguh aneh memang, ketika seseorang tidak tahu apa yang harus dia lakuka, dalam, dan ketika ada seseorang yang menyuruhnya untuk melakukan sesuatu, tapi dia tidak mau. Kenapa dengan putri?

Beberapa hari yang lalu, sebulan yang lalu, bahkan satu tahun yang lalu dia masih melanjutkan cerita nya KE “Media Parno” Saat ini diapun masih bercerita tentang masa lalu nya pada “Media Parno” .

Lanjut cerita, putri pun menulis tentang nya lewat diary-nya.

“Masih saja begitu dari dulu ngga ada enak-enaknya jadi TKI. Meskipun dapat legalitas dan katanya ada perlindungan dari pihak begara, tetap saja hal buruk itu terjadi. ssekarang masih saha aku sering melihat di koran-koran, di televisi malah sedang gencar-gencarnya sekarang ini di media masa banyak mereka yang menjadi TKI malah cuma jadi bahan siksaan saja oleh majikanya, huhh.serem dan tragis memang. ada yang jari-jari tangannya di gunting, rambutnya dibotakin, tubuhnya disayat-sayat pakai pisau, dan masih banyak lagi. lantas, apa aku harus seperti mereka? ahh aku ngga mau aku ngga mau titik!

Putri menutup diary-nya sambil menhelang napas.
sekarang dia sedang berada di sebuah tempat namun dia tidak sadar tempat itu adalah bukan tempat yang seharusnya dia datangi.
Awalnya sepi. sekarang sudah agak larut malam mungkin, dan tempat ini seperti kafe, namun dia kira hanya sebuah warung biasa sudah semakin ramai orang-orang berdatangan perempuan dan laki-laki begitu banyak.

“Hai cewek, belum pulang”? lelaki bertato sambil membawa birr mencolek dan berusaha menggodanya.
Putri menghindar dari orang itu. dia berusaha keluar dari tempat itu. namun beranjak tiga langkah menghindar dari lelaki bertato tadi ada lelaki bertato lagi yang berusaha menghalanginya. lelaki yang tadi menjaga warung ini, tiba-tiba menutup dan mengunci pintu dari dalam.

“Aku salah tempat, sambil memeluk buku diary yang dia pegang kedadanya putri melirik kiri kanan, di setiap sudut tempat itu sudah penuh dengan pasangan-pasangan berengsek yang sedang menikmati dinginnya malam lampu yang berkelip-kelip.
Ahh warung sialan, ujar putri!”

Haii cewek kamu itu salah masuk kandang sudah larut malam begini belum juga pulang. ya tanggung. harus terima risikonya. hahaha ujar pemilik warung yang berkumis lebat itu.
Putri tak mengira malam ini akann menjadi kelabu seperti hatinya pula.

Hari ini kita dapet santapan baru banyak duit nih kita.
ya kau benar.
Ehh yang pasti saya yang lebih besar jatahnya kan saya yang punya tempat ini haha.
Banyak bacot kau tapi ya sudahlah haha tawa mereka pecah, uajar pemilik warung dan teman-temannya.

Malam ini memang benar-benar kelabu untuk putri.

Nenek dan kedua adinya semalamanan mencari putri.
namun , tak kunjung juga mereka temukan. wajah -wajah gelisah itu tampak dari air muka mereka. sepertinya sudah benar-benar tidak tercium sedikit pun jejak-jejak putri di temukan.

Semua ini gara-gara nenek seharusnya nenek jangan seperti ini sama kakak.

Mungkin salah dewi juga kemarin mungkin kakak kecewa dengan pernyataan dewi.”

Mau cari kemana lagi nek kakak ngga ketemu-ketemu’ uajar adik nya paling kecil yang laki-laki itu sambil membawa ketepel di lehernya.

Lapor polosi aja nek.
hussst kamu anak kecil tau apa soal polisi.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan.
Dag-dig-dug hati mereka saat melewati beberapa tempat yang agak gelap dan menyeramkan. melewati kuburan jembatan tempat pelacuran warung kopi dan lain-lainnya.
Hanya wajah-wajah kosong saja yang mereka temukan pada tempat-tempat itu. entah sudah berapa kilo mereka bejalan kaki.

Sesekali mereka beristirahat. wajah mereka sudah melai kusut.
Hingga menjelang subuh, mereka belum juga menemukan sosok gadis berambut hitam sebahu itu. Mata-mata mereka sudah agak meredup.
Langkah mereka sudah mulai melemah seperti habis naik gunung saja.
Pada sebuah tempat-depan warung-mereka bertiga beristirahat lagi sejenak. mata-mata sayu mereka akhirnya terlelap dalam mimpi.

Jalanan sudah sepi. satu dua motor saja yang melintas. dan pepohonan yang nyaris tumbang di sampinng warung itu mengeluarkan bunyi-bunyi tokek yang saling bersahutan. seperti sebuah teriakan yang saling menghantam. pemilik warung-warung di samping merekapun sudah tidak ada wujudnya. kosong.
Selang beberapa menit kemudian, suara keributan terdengar dari dalam warung itu.
terdengar seperti tamparan, sobekan baju, dan jeritan seorang perempuan.

Guprak? Tiba-tiba saja pintu warung terbuka.
Nenek dan kedua cucunya sontak kaget.
Langsung mereka berdiri keheranan. mata mereka masih sembab dan masih membayang.

“Mau pergi kemana, sayang?” lekaki bertato itu berjalan sempoyongan, mungkin sudah telalu banyak minum .

“Hayo, manis, kesini.” lelaki bertato yang kedua tak kalah girang menggodanya.

“Jangaaann!”

“Putri?”

“Nenek itu kak putri”

Dewi melihatmelihat jelas yang ada dihadapannya itu.
Dengan baju yang sudah compang-camping kelihatan Beranya.

Nenek dan kedua cucunya itu tidak berani menghampiri putri.
Ketiganya diserbu ketakutan.
Tiba-tiba. Mengunci langkah mereka. Lantaran putri sedang diserbu oleh para lelaki bertato.
Mereka hanya mampu bersebunyi di sudut warung.

“Tolong!” triakan putri.
Namun percuma, teriakannya itu tidak ada respon sedikitpun dari orang-orang di sekelilingnya.
Mungkin hanya tokek-tokek saja yang menjawab.

Putri tidak bisa lari. dia masih dalam lingkaran tiga orang bertato itu.
Putri tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya tersayat oleh hasrat para lelaki itu. Darahh bercucuran di sekitar pahanya.
Tiada henti . Antara kesadaran yang lagi penuh, sayup-sayup wajah neneknya, kemudian dewi, adiknya, hadir silih berganti. Bayangan tentang seramnya menjadi TKI menyergap pikirannya.

Adai aku menuruti perkataan Nenek, bisikanya.
Namun sekuat tenaga, buru-buru ditepisnya penyesalan itu. Darah masih mengaliri pahanya, membawa rasa ngilu yang menusuk hati.
Tiba-tiba dia membenci dirinya. Melebihi bencinya kepa nenek,

Singkat cerita akhir nya ada orang yang lagi mau pergi kepasar bapak-bapak itu melihat kami yang sedang di kepung para lelaki bertato itu.
Lalu si.bapak mencari bantuan pada warga. akhirnya wargapun datang menolong kami.

Aku menyesal ngga mau dengerin perkataan nenek andai aku dengerin kata nenek mungkin ini semua ngga akan terjadi. ujar putri.

Cerita ini disampaikan oleh Putri kapada “media parno”
apa pun yang ada di benakmu dan yang kamu alami sebagai wanita, jangan bikin kamu minder dan bermuram durja. masa lalu bukan aib yang perlu ditutup-tutupi. buat kamu yang ingin berbagi semua hal tentang kisah-kisah yuk cerita ke “media parno” biarkan orang tahu, kisahmu bisa menghibur bahkan menginspirasi mereka. siapa tahu ketemu jodoh di sini. dari cerita turun kehati.

Terimakasih telah membaca Artikel – Kisah Wanita Muda yang Hilang Keperawanannya akibat tak mendengarkan nenek nya. Silahkan tinggalkan komentar, saran dan pesan Anda untuk kemajuan website “media parno” Terimakasih untuk dukungan dan partisipasi Anda.

Make a Comment

Your email address will not be published.

You can make the comment area bigger by pulling the arrow. If you are techie, you can use basic HTML tags and attributes to format your comment.

(required)