Aku Harus Menikmat Sari & Susan Skaligus Ibu & Anaknya

Aku Harus Menikmat Sari & Susan Skaligus Ibu & Anaknya

Saya dibesarkan didalam keluarga yang sangat taat dalam agama.
Saya sebelumnya belum pernah terekspos terhadap hubungan laki-laki dan peresaya perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saua baca dalam cerita-cerita dewasa ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMA.

Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun melihat tubuh wanita bug!l sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar bug!l punya kakak saya seperti Lana Lobel, yang memperagakan pakaian dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi beberapa kali.


Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bug!l wanita seperti Sari, tetapi bisa mengalami kenikmatan sanggamanya dengan wanita suguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. dengan hanya memmandang tubuh Sari yang begitu mulus dan putih saja sudah cukup sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apa lagi dengan secara nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya.
Apa lagi betul-betul melihat kemaluannya yang mulus tanpa J3mbut.
Bisa mencium dan mengedus bau kemaluannya yang begitu mengairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan paling hebat lagi buat saya kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya.

Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa disebut cunniligus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut. sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkann dan menggigit bibir luarnya (labia majora), lallu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan.
Yang terakhir barulah saya memasukan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang sudah banjir.

Setelah kesempatan saya dan Sari untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bemain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani dan Sari dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling sedikit 3kali seminggu. Apabila dia datang dia akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.

Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran tempat tidur saya.
Saya biasanya langsung menerkam T%&T.nya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya.
Sari sangat suka apabila saya mengemut pentil T?!Tnya yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentillnya.

Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks. Untunglah Sari selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua atau tiga kali sebelum saya masukan batang saya kedalam lubang peranakannya, dan setelah saya pompa hanya bebera kali saja maka saya seringkali langsung menyemburankan cairan saya kedalam lubangnya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Sari bisa menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan lubang Sari yang seakan-akan menyedot batang saya lebih dalam kedalam sorga dunia.

Sari juga sangat doyan mengemut-ngemut batang saya yang masih belum bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat dan Sari sangat sering mengoda saya dengan menertawakan batang saya, dan setelah beberapa minggu Sari kemudian berhasil menarik seluruh kulit batang saya sehingga topi baja saya bisa muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik batang saya sampai terasa sakit, lalu akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher batang saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan keluarlah airku tumpah dan muncrat kehidung dan matanya.

Satu hari, kami sedang asyik-asyikanya menikmati sanggama, diamana kami berdua sedang telanjang bug!l dan Sari sedang berada didalam posisi diatas menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa mengisap-isap %T!#T*Nya sementara dia menggilas batang saya dengan kem@luannya. pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. dan pasangan suami istri yang tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan mereka yang baru.

Saya sudah ejakulasi sekali dan air putih saya sudah bercampur dengan jus dari kem@luannya yang selalu membanjiri. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak perempuannya yang bernama susan ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan berkata, “Ibu main kuda-kudaan iya..?”

Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang dipuncak klimaksnya, Sari diam saja terlantang diatas tubuh saya.
Saya melirik dan melihat susan datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana batang saya. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.

“Hayo, ibu main kuda-kudaan” katanya lagi.
Lalu pelan-pelan Sari menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa berusaha menutupi kebug!lannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut dan batang saya.
“Susan-susan. kamu ngapain sih disini” ujar Sari sambil lemas.
“Susan pulang sekolah agak pagi dan susan cari-cari ibu dirumah, tahunya lagi kuda-kudaan sama bang Firman ,” ujar susan tanpa melepaskan matanya dari arah kem@luan saya. Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Sari tenang-tenang saja.

“Susan juga mau kuda-kudaan,’ Ujar susan. tiba-tiba.
”ehh, susan masih kecil.” ujar Sari sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan dasternya.
“Susan mau kuda-kudaan, kalau ngga nanti susan bilangin kakek.’
“Jangan Susan, jangan bilangin kakek. ujar Sari sambil membujuk.
“Susan mau kuda-kudaan,” Susan membandel. “kalau ngga nanti susan bilangin kakek.”
“iya udah, diam. disini, biar bang firman kuda-kudain susan.” ujar Sari.

Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti mau copot.
Saya sudah sering melihat susan bermain-main di perkarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil.
Dari mana dia mengerti tentang “main kuda-kudaan.

Sari mengambil bantal yang sedang menutupi kem@luan saya dan tangannya mengelus-ngelus batang saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.

“Sini, biar susan liat.” Sari mulai memegang batang saya untuk menunjukkan kepala batang saya kepada susan. Susan datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas batang saya.
Saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahi harus melakukan apa.

Tempat tidur saya cukup besar dan sari kemudian menyuruh Susan untuk membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur dedekat saya.
Saya duduk dikasur dan melihat tubuh susan yang masih begitu remaja.
&%T*!?T!#nya yang masih mau berbentuk bulat, hampir sempurna.

Sari kemudian merosoti celana dalam susan dan saya melihat kem@luan susan yang sangat mulus, seperti kem@luan ibunya. Belum ada bibir luar, hanya gari lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat belahannya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kem@luannya.
Susan merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Saya mengelus-elus $%T?’!T!# susan yang agak menggembung lalu saya coba merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, susan menurut, dan saya berlutut di antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan susan.

“Ibu, susan malu ahh.” ujar susan sambil berusaha menutup kem@luannya dengan kedua tangannya.
“Ayo, susan mau kuda-kudaan, ngga” ujar sari.
Saya mengendus kem@luan susan dan baunya sangat tajam.
“Uhh, bau pesing.” Saya berkata dengan agak jijik, Saya juga melihat adanya cairan yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kem@luan susan.
“Tunggu sebentar,” ujar sari yang lalu pergi keluar kamar tidur.
Saya menunggu sambil mempermainkan bibir kem@luan susan dengan jari-jari saya. susan mulai membuka pahanya makin lebar.

Sebentar kemudian sari datang membara satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun mulai mencuci kem@luan susan dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan kem@luan susan mulai memerah karena digosok-gosok sari dengan handuk tadi.
Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kem@luan susan. Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kem@luan susan yang hanya berbau amis sedikit saja.

Saya mulai membuka celah-celah kem@luanya dengan menggunakan lidah saya dan susan-pun merenggangkan pahanya semakin lebar.
Saya sekarang bisa melihat sangat jelas. Bagian samping kem@luan susan kelihatan sangat lembut ketika saya n=membuka belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.

Saya isap-isap kem@luanya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan kem@luanya dengan ujung lidah saya, susan menggeliat-geliat sambil mengerang, “Ibu, aduhh geli, Ibuuu.. geli banget ini ibuuu..”

Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala batang saya kerah belahan bibir kem@luan susan dan tanpa melihat kamana masuknya, saya dorong pelan-pelan.

“Aduhh, sakit buu..,” Susan hampir menjerit.
“Firman, pelan-pelan masukannya.”
Kata sari sambil mengelus-elus dada susan.
Saya coba lagi mendorong, dan susan menggigit bibirnya kesakitan.
“Sakit, Ibuuu…”

Sari bangkit kembali dan berkata, “Firman tunggu sebentar,” lalu dia pergi keluar dari kamar. Saya tidak tahu kemana sari perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun berlutut didepan kem@luan susan dan sambil memegang batang saya mempermainkan kepalanya.
Susan memegang kedua tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.

Saya merasa kepala batang saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan sari yang longgar dan batang saya tidak penah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi lubang susan yang masih kecil itu tubuh saya mundur sambil berteriak, “Aduuhh..!”
Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan susan masih tetap kesakitan.

Sebentar lagi Sari datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak kelapa.
Dia mengolesi kepala batang saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga melumasi kem@luan susan. Kemudian dia memegang batang kem@luan saya dan menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki lubang susan. Terasa licin memang dan sayapun bisa masuk sedikit demi sedikit.
Susan meremas tangan saya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.

Saya melihat susan menitikan air mata tetapi saya meneruskan memasukan batang saya pelan-pelan.
“Cabut dulu,” ujar Sari tiba-tiba.

Saya menarik batang saya keluar dari lubang susan.
Saya bisa melihat lubangnya yang kecil dan merah seperti menganga.
Sari kembali melumasi batang saya dan kem@luan susan dengan minyak kelapa, lalu menuntun batang saya lagi untung masuk kedalam lubang susan yang sedang menunggu.

Saya dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam didalam Susan. Aduh nikmatnya, karena lubang susan betul-betul hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan dalam-dalam dan air putihku pun tumpah didalam lubang susan.
Susan yang masih kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami berdua sedang merasakan bersanggama denggan disaksikan Sari, ibunya sendiri.

Susan belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air putih saya.
Saya juga tidak melihat reaksi dari susan yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak.
Saya merebahkan tubuh saya diatas tubuh susan yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.

Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping susan. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Sari sudah terangsang lagi setelah melihat saya bermain dengan anaknya.
Diapun mendudukinya dan menggilingnya dengan pinggulnya yang basah, dan didalam kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap batang saya yang sudah melai lemas sehingga batang saya itu mulai menegang kembali.

Wajah saya begitu dekat dengan kem@luanya dan saya bisa mencium sedikit bau kem@luan yang baru di cuci dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah.
Nafsu kami memng begitu menggebu-gebu, dan saya jilat kem@luan Sari sepuas-puasnya, sementara susan menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Saya sudah mengenal kebiasaan Sari dimana dia sering kentut kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat itupun sari kentut beberapa kali diatas wajah saya. Saya sempat ,elihat lubang kem@luan Sari bergetar ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan semburan air putih saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut sari.
“Alangkah indahnya..!” ujar Firman berteriak dalam hati.

“Uhhh, ibu kentut,” ujar susan tetapi sari hanya senyum saja.

Hanya sekali itu saja saya pernah tidur dengan susan.
Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersaggama. Dia masih anak SMP, dan pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Sari terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali seminggu.

Saya masih inget bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap kali kami selesai bersanggama, Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani Sari.

Cerita ini disampaikan oleh Sari kapada “media parno”
apa pun yang ada di benakmu dan yang kamu alami sebagai wanita, jangan bikin kamu minder dan bermuram durja. masa lalu bukan aib yang perlu ditutup-tutupi. buat kamu yang ingin berbagi semua hal tentang kisah-kisah yuk cerita ke “media parno” biarkan orang tahu, kisahmu bisa menghibur bahkan menginspirasi mereka. siapa tahu ketemu jodoh di sini. dari cerita turun kehati.
Terimakasih telah membaca Artikel – ini jangan lupa Like dan share iya.

Make a Comment

Your email address will not be published.

You can make the comment area bigger by pulling the arrow. If you are techie, you can use basic HTML tags and attributes to format your comment.

(required)